LEMBAGA PERS MAHASISWA (LPM) "PENCERAH"

LEMBAGA PERS MAHASISWA (LPM) "PENCERAH"
Motto : "Kreatif dan Inspiratif"

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 22 Januari 2015

Menginspirasi Gaya Rektor Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Sesekali cobalah nongkrong sebentar di beranda situs Rektor Universitas Muhammadiyah Palangkaraya Drs. Bulkani,M.Pd, ada beberapa tulisan yang bisa menjadi inspirasi, disajikan dengan bahasa yang mudah dimengerti dan lumayan kocak, ada juga cerita-cerita pengalaman yang lucu dengan modal rambut beliau yang mirip para militer, dikira dokter, dan lainnya. Kadang saya berpikir setelah membaca tulisan ini, saya harus mengubah jenis rambut. Yaa..mirip militer, namun sayang badan saya kecil untuk melakukan hal tersebut.
Biasanya beliau rutin menulis, dalam satu minggu selalu ada tulisan-tulisan yang diposting. Ditengah kesibukannya, rupanya menulis merupakan rutinitas yang meski harus dipenuhi. Jangan terkejut ketika membuka situs beliau, sosok foto yang berwibawa bergandeng dengan Presiden AS Barack Obama, muncul isu ini hanya patung lilin. Apakah benar, saya menanti tulisan beliau mengenai penjelasan foto ini. Semoga saja tulisan ini sempat beliau baca. (amin) [dyn]
Berikut tulisan-tulisan beliau yang telah diposting :
  1. Membangun Paradigma Baru
  2. Takdir Sebagai Sistem
  3. Menyelesaikan Akar Masalah
  4. Yang Paling Dekat
  5. Bukan Hanya Soal Jam Kerja
  6. Jika Tidur Itu Ibadah
  7. Berusaha, Berdoa, Lalu Bercermin
  8. Lupa Menghargai
  9. Menghargai Lupa
  10. Kebahagiaan Separuh Nilai
  11. Kurikulum Dengan Banyak Wajah
  12. Mengasah Rasa, Menguji Syukur
  13. Dikira Tentara
  14. Dikira Dokter
  15. Kai Hintalu Naik Haji
  16. Silaturahim Ala Kakek Saya
  17. Pentingnya Silaturahim
  18. Perlu Silaturahim Lagi….. 

Kamis, 20 November 2014

Harga BBM Naik Kami Harus Tetap Sekolah

Oleh : *Debu Yandi
Aku dan kawan-kawanku, adalah murid Sekolah Dasar kelas 4 di sebuah desa terpencil Kalimantan Tengah. Setiap hari aku dan kawan-kawanku berangkat ke sekolah dengan melintasi jalan setapak dan menyebrangi sungai dengan perahu mesin kecil milik salah seorang warga dengan bahan bakar solar harga 15rb/liter.
Akses jembatan tidak mungkin akan dibangun, karena jarak penyebrangan itu lumayan jauh, dan tak mungkin juga kami harus menggunakan sampan/ jukung (dalam bahasa dayak ngaju), arus air bisa dibilang deras. Warna air yang kehitam-hitaman akibat limbah perkebunan sawit menambah angker suasana sungai, dulu tak begitu sebelum perusahaan sawit masuk ke desa kami.
Apalah daya kami, kami harus sekolah. Bukan karena program Pemerintah Provinsi “Kalteng Harati” yang memaksa kami harus sekolah, namun ini murni dari dalam hati kami. Kami ingin menjadi manusia yang cerdas dan berkemampuan layaknya orang-orang di kota. Walaupun, sekolah kami tertinggal, kami tak mengenal namanya internet, komputer saja hanya satu, itupun rusak, apa itu facebook, twitter, blog, kami tak mengenal hanya tau namanya saja dari mereka-meraeka anak kuliahan yang kebetulan pulang kampung.
Ayah dan ibu ku, kerja hanya menjadi buruh lepas di perkebunan kelapa sawit dengan gajih per hari 56rb dan akan diterima setiap dua minggu sekali, dulu sekali ayah kerja memotong rotan (manetes) milik orang lain, dan berbagi hasil apabila rotannya telah dijual dan ibu kerja menyadap karet (mamantat) milik orang lain dan berbagi hasil pula ketika telah dijual, itu dulu ketika harga karet dan rotan masih tinggi. Kini, harga karet dan rotan tak ada artinya, sehingga hamper semua warga memilih untuk bekerja diperkebunan kelapa sawit, dan bahkan lebih parah lagi tanaman karet dan rotan banyak yang digarap habis oleh warga beralih menanam kelapa sawit.
Harga BBM naik, semua juga ikut naik. Gaji ayah dan ibu menjadi harapan hidup kami, untuk makan, keperluan sekolah, dan lainnya. Hutang dimana-mana menunggu gaji keluar, dan kerap kali gaji tak ada sisa ketika membayar hutang. Terpaksa hutang lagi. Saya teringat lagu Rhoma Irama yang syairnya “gali lobang tutup lobang, pinjam uang bayar utang”, inilah jalan hidup kami.
Apa yang mau diharapkan dari kami “hanya tamatan SD dan SMP” ucap ayah dan ibu. Makanya kamu harus jadi anak pintar, bisa kuliah. Tak mengapa ayah dan ibu kerja keras seperti ini, raihlah cita-citamu setinggi mungkin, ucap ayah yang tengah menikmati secangkir kopi dan rokok kopeh (rokok yang dibuat sendiri, dengan tembakau yang dibeli dalam kemasan berbungkus).
Ayah dan ibu berangkat kerja setiap ba’da subuh, dengan berjalan kaki selama kurang lebih 2 jam. Tiba kembali dirumah sekitar jam empat sore. Begitu setiap harinya. Kenapa gak pakai motor? Karena kami gak punya sepeda motor, untuk kehidupan sehari-hari saja sudah kurang. Jalan kaki, adalah solusi terbaik untuk dijalankan. Mungkin begitulah kira-kira yang ada dalam benak ayah dan ibu.
Motivasi mereka adalah aku, aku yang mereka harapkan utuk menjadi anak yang sukses nantinya. Sehingga, taka da kata lelah bagi mereka, terik mentari dan hujan sudah menjadi nuansa alami yang mereka rasakan setiap hari. Kadang, ayah dan bunda harus kerja dengan pakain yang basah, karena hujan, mau berteduh takut terlambat. Maklum, kerja diperusahaan sawit harus disiplin. Kadang, mereka pulangpun disambut hujan, maka bagi seorang anak kewajibanku membuatkan kopi/ teh hangat untuk mereka. Cukuplah dengan tambahan rebusan ubi, sudah mengenyangkan bagi mereka.
Harga BBM naik menjadi topik hangat di desa kami, walaupun di desa, beberapa warga juga punya televisi. Jadi tak heran suasana seperti bioskop dirumah warga yang mempunyai televisi setiap harinya.
Isu Harga BBM naik, di desa sudah pada naik harga sembako. Gaji ayah dan ibu, tak ikut naik. Seandainya seiring dengan isu kenaikkan Harga BBM naik dan bahkan sekarang sudah naik, gaji ayah dan ibu juga ikut naik, niscaya aku dan kawan-kawanku setiap hari akan membuat isu kenaikkan harga BBM, gumamku. Maklumlah aku masih anak Sekolah Dasar.
Katanya lagi, kenaikkan harga BBM untuk menyelamatkan Negara. Dan dana akan dialihkan ke infrastruktur, saya percaya saja. Apalagi ayah dan ibu, kalau untuk menyelamatkan Negara kenapa tidak, kata ayah dan ibu. Kita tunggu saja, semoga desa kita pembangunannya tambah.
Tapi tetap saja, harga BBM naik semua ikut naik. Gaji tak naik, aku dan kawan-kawanku harus tetap sekolah dengan menggunakan perahu mesin, bayar loh itu ongkos minyaknya. Terlambat, ya pasti kalau tiba-tiba minyaknya habis, dan terpaksa harus mendayung perahu mesin tadinya. Tapi tenang saja, aku dan kawan-kawanku tetaplah anak yang rajin, tak ada tugas yang tak kami selesaikan tepat waktu, Pekerjaan Rumah itu hal biasa. Walupun buku-buku bacaan masih kurang, kami sangat antusias nanya kepada guru, hal yang tidak kami ketahui.
Aku dan kawan-kawanku, mempunyai keinginan yang sama, yakni ingin bisa computer, punya akun facebook, twitter, bisa update status, upload foto dan lainnya. Kami juga ingin kuliah, karena walupun miskin kata guru kami, kami pasti bisa kuliah dengan modal kecerdasan kami, dan kami juga yakin kami mampu mendapatkan beasiswa. Semoga perjuangan ini tak sia-sia, dan Tuhan selalu mendengar hamba yang memuji Nya.


*Nama lengkap Yandi Novia, mahasiswa S1 Ahwal Al Syakhsyiyyah
 Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, 
aktivis Ikatan Mahasiswa Muhamamdiyah Kalimantan Tengah, 
lahir di Desa Tanjung Jariangau, Kecamatan Mentaya Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur.

Rabu, 12 November 2014

Menyongsong Masa Depan Pasca Wisuda



Karya Hairunsyah, Mahasiswa Fakultas Agama Islam/
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya,
Aktif di UKM Kreatif.
Hanya satu-satunya di Kalimantan Tengah pemuda yang menekuni dunia karikatur dan komik.
Nikmati terus hasil karyanya.
Komik kali ini merupakan edisi perdana pada penerbitan Tabloid Pencerah,

mengambil moment Sarjana tahun 2014.

Ketika Angan Hanyalah Sebuah Harapan

KETIKA ANGAN HANYALAH SEBUAH HARAPAN
Karya Fitri Rahmawati (iChi)*


Bergetar menembus kelam
Teringat saat pertama ku lihat kau dari kejauhan
Caramu menatapku, menyapaku
Terekam jelas dalam memoriku

Seandainya hadirku dalam lembaran hidupmu
Hanyalah sebuah angin yang berlalu
tanpa kata, tak berarti dan tak bermakna
HAMPA ...
Hingga aku terdiam membisu
Dalam heningnya musim sendu

Kian mencari, memanjang di hamparan laut yang tak berujung
Ke sana ke sini, kemana-mana tak dapat menjangkau
Dan akhirnya terbentur adaku yang terhempas ombak
Menerpa bebatuan cadas dan tajam

Maka izinkanlah angin ini kembali sejenak
Untuk menyapamu di kala suka maupun dukamu
Meski hanya lewat bait doaku
Dan  desau angin atas gerimis hati

Penulis adalah mahasiswa D-III Farmasi
Universitas Muhammadiyah Palangkaraya


Sekilas LPM Pencerah Universitas Muhammadiyah Palangkaraya





Gagasan untuk menerbitkan Tabloid Pencerah beriringan dengan ide pembentukan Lembaga Pers Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangkaraya yang resmi dibentuk tanggal 14 September 2014 di Perpustakaan Fakultas Agama Islam yang selanjutnya dijadikan sebagai sekretariat LPM Pencerah UM Palangkaraya. Semangat ini mulai ditempuh sejak 2013 silam, dengan adanya Forum Jurnalistik Universitas Muhammadiyah Palangkaraya (For Jump).

LPM Pencerah UM Palangkaraya dengan motto “Kreatif dan Inspiratif” adalah sebuah jawaban dan media komunikasi mahasiswa yang akan memberikan kesempatan kepada mahasiswa berkreatifitas dan juga sebagai wadah pengembangan diri terutama di bidang jurnalistik.

Sebagai langkah awal penerbitan kali ini mengusung dua tema besar yakni The Green Islamic Campus dan UMP Go International dan bagian terakhir disajikan kreatifitas mahasiswa dibidang karikatur/ komik dan sastra.

Para pengurus/ pengelola LPM Pencerah UMP merupakan para mahasiswa yang dalam tahap belajar dan mencoba memberikan yang terbaik untuk kampus dibidang jurnalistik, dan akan menghidupkan nuansa semangat menulis baik bagi mahasiswa dan dosen di lingkungan Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.

Mari tumbuhkan semangat menulis
sebagai budaya baru di Universitas Muhammadiyah Palangkaraya.



Pilih Ketua KNPI Jangan "Wani Piro"

Musyawarah Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Kalimantan Tengah sudah didepan mata, carut marut proses koalisi mulai dilakukan oleh tim sukses calon masing-masing kandidat.
Meski hingga saat ini masih tak terdengar suara sumbang “wani piro”,  namun memasuki detik-detik menentukan bisa saja suara“wani piro” berkumandang. Demikian ini diungkap Yandi Novia, Ketua Umum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Provinsi Kalteng, Selasa (28/10)
Menurut Yandi, pihaknya berharap dalam musda KNPI di Kabupaten Sukamara, sebisa mungkin menghindari adanya proses pembelian suara untuk kemenangan kandidat tertentu.
“Bila terjadi, maka kualitas calon yang dalam proses kemenagannya dengan “wani piro” artinya menggadaikan diri dengan sejumlah uang. Maka tidak memilikim potensi apa-apa untuk membawa perubahan organisasi KNPI empat tahun kedepan,” tandasnya
Namun demikian kata dia, organisasi kepemudaan tetap mengharapkan, agar pergantian kepemimpinan nantinya memiliki gebrakan besar, mampu  menciptakan program-program kerja yang bersifat aksi dan gagagasan yang dapat menciptakan karya-karya nyata untuk kemajuan serta dapat menampung dan merealisasikan ide-ide kreatif terhadap organisasi.
“Telah kita ketahui bersama bahwa KNPI merupakan wadah berhimpun organisasi yang mengatasnamakan pemudayang telah diatur batas usia untuk menjadi pengurus. Harapannya musyawarah kali ini akan melahirkan para pemimpin muda yang mampu menciptakan sebuah perubahan,” cetusnya
Sebab itu untuk melahirkan pemimpin yang baru, maka perlu dilakukan uji kapasitas dan kapabilitas calon, melalui debat kandidat yang dilakukan sebelum proses musyawarah berlangsung. Debat kandidat hendaknya dilakukan didepan para segenap pengurus organisasi kepemudaan, kemahasiswaan, dan lainnya, dengan tujuan  adalah untuk melihat sejauh mana visi misi, kesiapan, kualitas dan niat calon untuk siap mengemban amanah dari para pemuda. Sehingga pemuda tahu mana yang harus ia dukung.

Catatan Musda XIII DPD KNPI Provinsi Kalteng di Kabupaten Sukamara


Poros Tengah Perjuangkan UU No. 40 Tahun 2009
(Catatan Musda XIII DPD KNPI Provinsi Kalteng di Kabupaten Sukamara)
Oleh : Debu Yandi*


“alangkah lucunya KNPI, suatu organisasi kepemudaan wadah berhimpun seluruh OKP tidak mengikuti dan menaati aturan UU No. 40 tahun 2009,
mau jadi apa pemuda di masa akan datang,
kalau sudah berani melawan aturan. Saatnya kita mengadakan sebuah Revitalisasi Kepemudaan, jangan pernah takut untuk manaati aturan”. Pemuda Kalimantan Tengah, dalam Musda XIII DPD KNPI Provinsi Kalteng, di Kabupaten Sukamara 3-4 November 2014.

Musyawarah Daerah DPD Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Kalimantan Tengah yang ke XIII di Kabupaten Sukamara pada tanggal 3-4 November 2014 dengan mengangkat tema “Peran Pemuda Menyongsong Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015”, berjalan dengan baik.
Proses koalisi dan suasana “wani piro” sayup-sayup terdengar dalam ajang musyawarah ini. Sebelumnya Ketua Umum DPD IMM Kalteng Yandi Novia menuntut adanya debat kandidat untuk mengetahui dan mengukur kapasitas calon,dan sekaligus sebagai ajang penyampaian visi dan misi lantas tak dilakukan, kemudian dituntut oleh salah satu tokoh pemuda Agus Hermawan, ST dengan tegas meminta panitia melakukan ajang debat kandidat, rupaya hal ini tak menjadi ketertarikan tersendiri oleh panitia dan beberapa OKP yang menjadi peserta musyawarah, pasalnya suara-suara sumbang lantas terdengar kemudian “ahh…pemuda, debat kandidat hanya mengulur-ulur waktu”, ucap beberapa pemuda yang telah melewati batas usia maksimal seperti amanat UU No. 40 tahun 2009.
Tak hanya itu, dalam suasana Musda kali ini terlahir sebuah gerakan dari pemuda yang memperjuangkan idealisme, mengembalikan roh KNPI, dan sebagai penyelamatan organisasi yang kemudian diberi nama “Poros Tengah”, dipromotori oleh Ketua DPD KNPI Kota Palangka Raya Bung Andi Wirahadi Kusuma, S.Sos dan Wakil Ketua Bung Agus Hermawan, ST, dan berhimpun kurang lebih 13 OKP di dalamnya.
Suasana sidang sempat memanas, adu argument dengan teriak antar satu dengan yang lainnya tak bisa dielakan lagi, saat pemilihan presidium sidang di kalangan OKP. Hal pemicu adalah kalangan pemuda (telah melebihi batas usia maksimum 30 tahun) menggagas calon dan beradu dengan calon pemuda (di bawah usia maksimum 30 tahun) dari kalangan mahasiswa, antar satu sama lain saling menjagokan calon masing-masing. Tak hanya itu, calon mantan Anggota DPR juga menjadi alasan penggagasan calon, dan tak mau kalah kalangan calon dari mahasiswa juga menggagas “kami juga siap menjadi presidium sidang”.
Tak ada yang salah dalam hal ini, tapi yang menjadi perhatian adalah semangat pemuda yang ingin menunjukkan bahwa mereka mampu dan siap untuk memimpin, dan meminta kesempatan untuk menampilkan kualitas dirinya.
Akhir dari ajang argument pencalonan presidium sidang ini dimenangkan oleh kalangan pemuda di atas usia maksimum, bukan karena dari calon kalangan mahasiswa yang tidak mampu menjadi presidium sidang namun sikap mengalah dan berjiwa besar yang mereka tunjukkan dan jauh dari itu mereka tak ingin terlalu jauh dalam sebuah adu argument yang sia-sia, dan selanjutnya mempersilakan yang lain untuk maju.
Selanjutnya, suasana puncak saat pembacaan syarat ketua yang terdapat dalam AD/ART KNPI yang menyatakan bahwa batas usia maksimal 40 tahun menjadi awal perdebatan sengit hingga berujung pada aksi peserta “ngamuk” kepada pimpinan sidang. Pasalnya, ide dan gagasan pemuda yang menyatakan bahwa musda kali ini merupakan momen terpenting untuk meluruskan apa itu pemuda seperti amanat UU No. 40 tahun 2009, yang menyatakan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penang pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun.
Bantahan demi bantahan dilakukan oleh peserta sidang di atas 30 tahun bermunculan, hal ini karena mengancam mereka tidak bisa masuk dalam jajaran pengurus KNPI. Hal yang lucu sempat terlontar dari salah seorang peserta yang menyatakan; ketika batas usia maksimal pemuda harus mengikuti amanat UU Kepemudaan, bagaimana dengan KNPI yang berada di Kabupaten, yang krisis akan kader, sehingga tak ada solusi untuk tidak memasukkan pengurus yang berusia di atas 30 tahun.
Kenapa, saya anggap sanggahan ini lucu? Itu artinya, KNPI yang berada di Kabupaten tersebut tidak pernah mengadakan sebuah pengkaderan/ restrukturisasi, padahal adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah organisasi selalu melakukan pengkaderan, sehingga tidak ada kata “tidak ada kader penerus”.
Sebagaimana komitmen bersama dalam Poros Tengah, akan terus mengawal Revitalisasi pergerakan DPD KNPI Provinsi Kalimantan Tengah tidak hanya pada musda melainkan pasca musda, karena keberadaan KNPI adalah sebuah wadah berhimpun OKP dan menjadi tanggung jawab bersama untuk mengembalikan roh semangat KNPI Kalteng yang selama ini dinilai vakum.
Revitalisasi organisasi kepemudaan meliputi pertama, menjadikan organisasi kepemudaan sebagai wadah pengembangan potensi pemuda yang andal. Kedua, menjadikan organisasi kepemudaan sebagai organisasi yang melaksanakan prinsip good governance. Ketiga, menjadikan organisasi kepemudaan sebagai kawah candradimuka bagi kader-kader pemimpin bangsa. Keempat, menjadikan organisasi kepemudaan sebagai organisasi yang berdaya dan mandiri, dan terakhir menjadikan anggota/pengurus organisasi kepemudaan sebagai pemuda yang progresif dan berpikiran maju. (/dyn)

*Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Palangkaraya,
Ketua Umum DPD IMM Kalimantan Tengah.


UMP Gelar Kuliah Umum Bertemakan Tantangan Globalisasi

Palangka Raya – Globalisasi merupakan suatu keniscayaan saat ini. Mau tidak mau, suka tidak suka, cepat atau lambat, globalisasi akan datang ke Indonesia. Pertanyaannya adalah sudah siapkah kita (rakyat Indonesia,red) menghadapi era Globalisasi ?
Menyikapi permasalahan di atas, UMP sebagai salah satu perguruan tinggi yang mencetak generasi penerus bangsa  merespon  dengan menggelar Kuliah Umum bertemakan tantangan di era Globalisasi, Senin (10/11) di Aula Utama UMP. Hadir sebagai pembicara dalam kuliah umum ini yaitu Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Dalam paparannya, Dr. Mu’ti meyinggung kesiapan kita sebagai bangsa dalam menghadapai era globalisasi. Sumber Daya Manusia yang terampil dan ahli merupakan kunci untuk sukses menghadapi tantangan ini dan pendidikan yang berkualitas merupakan syarat utama untuk menghasilkan generasi yang siap menghadapi kompetisi dalam globalisasi.
Kegiatan kuliah umum ini diikuti lebih dari 1000 mahasiswa UMP dan segenap jajaran Rektorat serta dosen dan Pegawai UMP. (ilh)